BERJALAN DALAM GELAP

Setiap manusia ingin meraih kesuksesan, dan setiap manusia yang mencapai kesuksesan menyimpan banyak cerita manis lebih manis daripada gula setengah kilo. Ambil contoh: RADITYA DIKA. Raditya Dika mengawali karirnya menjadi seorang blogger. Pertama kali dia (Raditya Dika) aktif dalam dunia blog, pembacanya hanya dibahwa dari 10 orang setiap satu postingan. Tapi berkat konsistensi yang dia tunjukan dia berhasil meraih penghargan anugerah blog award 2003. Memang tidak mudah, karna semuanya butuh proses, perjuangan, dan makan, karna kalo gak makan innalillahi dong.

Namun kadang yang menjadi masalah dari perjuangan adalah ketika kita berjuang tanpa ada dukungan dari orang terdekat. Sama seperti yang saya alami; Berjuang tanpa support adalah salah satu hal yang menyedihkan dalam hidup saya, tapi saya tidak menyesalinya, apalagi menangisinya. berjuang tanpa support itu kayak pengen ikut balapan motor tapi motor kita ditarik sama diler. sakit coy, malu lagikan.

Pada saat SD, saya ingin sekali menjadi seorang polisi, tanpa ada alasan yang jelas impian itu muncul dengan sendirinya. Namun, sering dengan berjalan waktu saya menemukan passion saya; Yaitu, Comedy. Dengan yakinnya saya tersenyum walaupun senyum saya tidak semanis gula setengah kilo, saya tetap berambisi untuk meraihnya. Disaat saya mengatakan pada orang  tua saya bahwa saya ingin menjadi seorang stand up comedian, mereka justru mengahiraukan saya, bahkan ibu saya mengatakan bahwa saya terlalu bermimpi tinggi. Mendengar kalimat seperti itu yang keluar langsung dari mulut ibu saya, saya hanya terdiam dan langsung masuk kedalam kamar saya. didalam kamar saya hanya bisa merenung, dan bertanya dalam hati.... "Apa yang salah? ini adalah hal yang indah!?" Ditambah lagi paman saya berkata, "kalo ingin jadi komedian itu harus sarjana." Mendengar omongan paman saya, saya hanya bisa terdiam sambil tertawa kecil. Saya bingung setengah mati, dan terus bertanya dalam hati... "Emangnya kalo buat orang ketawa harus punya gelar akademis?"

Emang sih, menjadi komedian harus memiliki wawasan yang luas. Tapi, bukankah semua pengalaman dalam hidup adalah guru. Belajarkan bisa darimana saja, bukan cuma sekolah. Saya tidak ingin larut dalam kesedihan, saya tidak ingin menjadi orang yang mengincar sesuatu karna uang, karna saya tau hidup tidak selamanya dan saya ingin mati dalam kebahagian. Sampai pada suatu titik saya mengambil resiko, saya tetap belajar untuk menjadi seorang stand up comedian. Saya bergabung dengan komunitas stand up comedy yang berada di daerah saya, yaitu: gorontalo. Walau tanpa support saya tetap melangkah untuk meraih mimpi saya, walaupun saya sendiri tidak pernah tau ada masalah apalagi yang akan menghampiri saya disana. Saya seakan-akan berjalan dalam kegelapan untuk mencari sinar yang tak pasti. Takut untuk gagal? iya. tapi rasa ingin sukses saya jauh lebih tinggi daripada ketakutan saya untuk gagal. Saya tidak ingin terus dihantui oleh rasa takut akan kegagalan, cukup film the conjuring yang menakuti saya dengan boneka annabelle-nya. 

Sampai akhirnya senyum terukir diwajah saya, ketika saya dengan bangga bisa memperlihatkan piala hasil dari lomba stand up comedy yang diadakan di gorontalo. Saya menjadi juara tiga dalam lomba stand up comedy se-provinsi gorontalo. ibu saya ikut bangga, terutama ayah saya, yang membebaskan mimpi saya walaupun awalnya ayah saya awalnya juga ragu. tapi begitu saya bergabung dengan komunitas stand up comedy gorontalo, ayah saya mulai yakin dengan pilihan yang saya ambil. Jalan masih panjang, ini belum awalnya. Saya masih harus terus berjalan dalam gelap walaupun saya tidak akan pernah tau masalah apalagi yang akan menghampiri saya. 

Saat ini pun saya masih ada dalam dilema, antara melanjutkan kuliah atau terus menulis di blog, terus belajar  untuk membuat konten di youtube, terus belajar untuk menulis buku, terus belajar untuk menulis materi stand up comedy. Jujur saja saya tidak ingin kuliah, tapi semenjak saya tidak kuliah uang jajan saya berkurang. Sampai akhirnya saya terus berpikir... "Apa sebaiknya saya kuliah, biar jajan saya kembali semula, atau saya dirumah saja menulis blog, menulis materi stand up, dan belajar menulis buku komedi. Kalo saya hanya dirumah masa tiap sore  saya jajan relaxa mulu. Kayaknya saya harus belajar bersyukur."

Apapun keputusan yang saya ambil hari ini, harus bisa saya pertanggung jawabkan dimasa depan. Untuk itu, saya akan memikirkannya matang-matang lalu mengambil langkah selanjutnya, agar saya tidak jatuh dalam kegelapan, dan terus melangkah hingga sinar yang saya cari berhasil saya temukan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini