DILEMA ELPIJI BATUDAA
Selamat datang di blog saya wahai para customer elpiji, wahai para elpiji lovers, dan wahai para maniak elpiji. And by the way saya bukan elpiji haters, Saya hanya seorang anak kampung yang memiliki kegelisahan terhadap elpiji yang kadang membuat penduduk di kampung saya menjadi dilema. Di kampung saya (Batudaa) elpiji cepat sekali habis, dan warga-warga lain kalo mau beli kadang tidak kebagian. Di batudaa yang tidak habis-habis cuma lilang (lilang adalah pisau panjang), Masalahnya lilang tidak bisa dipakai buat hidupin kompor gas. Makanya di kampung saya kalo mau beli elpiji persaingannya ketat sekali, bahkan tidak kalah ketat dari persaingan liga champion.
Sebelum cerita ini saya lanjutkan, saya jelaskan dulu tata cara membeli elpiji di pangkalan. Ada tiga tata caranya;
Okey, Mari kita lanjut kembali pada inti ceritanya. ..
Kenapa saya bahas ini di blog saya, karna ibu saya adalah seorang guru PNS yang memiliki pekerjaan sampingan sebagai pedagang, dan ibu saya juga jualan elpiji. Ibu saya itu adalah salah satu pejual elpiji best seller di Batudaa. Dan setiap kali petugas elpiji melakukan pengisian di pangkalan ibu saya, warga-warga kompleks langsung buru-buru bergegas menuju pangkalan ibu saya sambil membawa elpiji mereka yang kosong; Ada yang bawa elpiji dua; ada yang bawa elpiji tiga; Bahkan ada yang saking buru-burunya, dia bawa elpijinya yang kosong sekalian sama kompornya, dan dia membawa elpijinya itu sambil berlari dengan kecepatan melebihi USAIN BOLT (Pelari tercepat didunia).
Saking cepatnya habis elpiji di batudaa, kadang ada warga-warga kompleks yang datang mau beli elpiji di pangkalan ibu saya, tapi datangnya sebelum petugas elpiji melakukan pengisian. Dan biasanya yang sering datang duluan itu ibu-ibu kompleks, yang kalo ngobrol sama temannya selalu temannya panggil bunda. Entah kenapa ibu-ibu kompleks di gorontalo kalo ngobrol sama temannya harus panggil-panggilan bunda?
Contoh: "Dari mana, bunda?" Rata-rata ibu-ibu kompleks di gorontalo kalo ngobrol sama temanya selalu temannya dipanggil bunda. kayak seolah-olah kalo ada ibu-ibu yang tidak memangil temannya dengan panggilan bunda, mereka merasa telah melakukan penistaan terhadap percakapan ibu-ibu kompleks. Mungkin ibu-ibu ada kamus tersendiri; KBBI (KAMUS BUNDA-BUNDA INDONESIA).
Nah, ibu-ibu kompleks ini biasanya yang datang duluan di pangkalan ibu saya sebelum petugas elpiji melakukan pengisian, supaya mereka kebagian. Sampai kadang-kadang ada yang tiba-tiba sok akrap dengan menggunakan modus-modus pujian pada ibu saya. Contohnya: "Apa kabar, bunda? Ti bunda so cantik eh.. jangan lupa kase sisa kasana tabung saya bunda waa, nanti saya mo kase fidget spinner ti bunda.' Ey Nanawa'u! Pongola limama'u fidget spinner (Buat apa fidget spinner dikasih ke ibu saya).
Lebih parahnya lagi waktu sore hari saya pernah lagi jalan di sekitar kompleks rumah, terus ada ibu-ibu yang bentuk alisnya lengkung-lengkung kayak sirkuit Moto GP, datang menghampiri saya dan bertanya...
'Elson, so maso gas pati mama?' Tanya si ibu.
'Saya juga tida tau ibu.' Jawab saya, dengan nada bicara sopan.
'Jangan panggil saya ibu, panggil saya bunda!' Jawab si ibu, dengan nada bicara sepeti bos-bos mafia.
'Iya, maaf bu, eh.. maksud saya bunda. Tapi saya juga butul tidak tau kalo elpiji so maso atau bulum.' Jawab saya, dengan nada bicara sopan.
'Masa olo ngana tida tau!?' Tanya si ibu lagi, dengan nada bicara memaksa
'Butul bunda, saya tida tau!' Jawab saya, dengan nada bicara sopan.
'Masa olo nga tida tau!? Tanya si ibu lagi, dengan nada bicara yang makin maksa.
Walaupun saya sudah berkali-kali bilang tidak tau, entah kenapa si ibu yang alisnya kayak sirkuit Moto GP ini tetap tidak percaya. Kayak seolah-seolah si ibu ini merasa kalo saya punya ikatan batin dengan petugas elpiji. Padahal saya sudah bilang tidak tau, tapi masih aja nanya, lama-lama saya kesal saya jawab...
'Bunda, saya so bilang saya tida tau, kalo ti bunda ba tanya turus saya hapus ti bunda pe alis!!' Kata saya.
'Jangan uti, lama ti bunda ada ba bikin ini alis uti..!' Jawab si ibu.
'Berapa lama so?' tanya saya.
'Ngana tau dari gorontalo ka manado kalo nae oto (Mobil) berapa jam?' tanya si ibu.
'12 jam, bunda!' Jawab saya.
'Kira-kira bagitu olo ti bunda pe alis!' Jawab si ibu.
Merespon jawaban dari si ibu saya hanya dapat bergumam, "Nanawa'u, ini ba gambar alis atau ba tunggu buka puasa!?"
'Terserah pati bunda jo, yang jelas jangan tanya pa saya saya juga tida tau!' Jawab saya.
'Baru mo tanya pa sapa!' Tanya si ibu.
'Tanya pa testony!!' Jawab saya, Sambil beranjak pergi.
Dari kejadian ini timbul ketakutan tersendiri. Saya takutnya karna elpiji sangat dibutuhkan di kampung saya, nanti lama-lama petugas elpiji kalo mau melakukan pengisian di pangkalan batudaa mereka jadi star syndrome. Pas turun dari trek petugas elpiji merasa bahwa mereka seolah-olah Justin Bieber yang disambut oleh para fans; Cuma bedanya Justin Bieber turun dari lamborgini pake kacamata, kalo petugas elpiji turun dari trek pake kaca spion; pas turun dari trek petugas elpiji bertindak seperti Justin Bieber, tapi justin biebern versi kampungan, Jadi petugas elpiji teriak ke warga-warga...
'Are you ready ibu-ibu kompleks?!' Teriak petugas elpiji.
'Panggil kami bunda, jangan panggil ibu!!!' Jawab ibu-ibu kompleks, dengan berteriak.
'Maaf bunda. Saya ulang ya? Are you ready bunda-bunda kompleks.' Teriak petugas elpiji.
'I'am ready!' Jawab ibu-ibu kompleks dengan kompak.
'Siap untuk memasak hari ini?!' Tanya petugas elpiji lagi.
'Siap!' Jawab ibu-ibu kompleks dengan kompak lagi.
'Masak apa hari ini?!' Tanya petugas elpiji lagi dan lagi.
'Yang enak dong!' Jawa ibu-ibu kompleks lagi dan lagi.
'Bunda-bunda yang didepan saya ini mau masak apa?!' Tanya petugas elpiji.
'Prekedel!; Jawab ibu-ibu yang didepan.
'Kalo bunda-bunda yang disebelah kiri saya mau masak apa?' Tanya petugas elpiji lagi.
'Prekedel!' Jawab ibu-ibu yang disebelah kiri.
'Kalo bunda-bunda yang disebelah kanan mau masak apa?!'
'Prekedel!' Jawab ibu-ibu disebelah kanan.
'Ini prekedel semua tidak ada yang lain!?' Tanya petugas elpiji, dengan nada emosi.
'Because prekedel it's my life!!!' Jawab warga kompleks, dengan kompak.
'Bodoh amat!! Nah, kalo bunda yang baru sampe ini masak apa?' Tanya petugas elpiji.
'Jangan tanya sama saya, tanya sama testony!!' Jawab si ibu yang baru sampe.
'Ya udah, kalo gitu kami pergi saja!' Kata petugas elpiji, dengan nada bicara ngambek.
'Pergi kemana, pak!' Tanya si ibu yang baru sampe.
'kami mau gabung Avegers!' Jawab petugas elpiji, sambil beranjak pergi.
Sumpah, tidak asik sekali. Jangan sampe petugas elpiji jadi star syndrome. Tapi dari sini kita sama-sama tau, ternyata testony itu sebenarnya, PREKEDEL!!!
Sampai disini pembahasan saya. Makase banyak untuk ngoni yang so ba baca kita pe blog. Pokoknya satu yang harus torang ingat...
"PREKEDEL NEVER DIE!!!"
'
'
!
Sebelum cerita ini saya lanjutkan, saya jelaskan dulu tata cara membeli elpiji di pangkalan. Ada tiga tata caranya;
- Pertama: kalo mau beli elpiji di pangkalan wajib membawa elpiji milik sendiri yang sudah kosong, untuk ditukarkan dengan elpiji milik pangkalan. Dan ingat, Jangan membawa elpiji yang masih ada isinya, apalagi kalo isinya kuah bugis.
- Kedua: Ketika ingin membayar elpiji yang dibeli bayarlah pake uang tunai, jangan membayar pake bulu ketek, apalagi bulu ketek yang tidak bersahabat dengan deodoran.
- Ketiga: Seteleh selesai membeli elpiji silahkan kembali ke rumah tanpa pamer-pamer ke tetangga, apalagi kalo pamernya sampai di bigo live.
Okey, Mari kita lanjut kembali pada inti ceritanya. ..
Kenapa saya bahas ini di blog saya, karna ibu saya adalah seorang guru PNS yang memiliki pekerjaan sampingan sebagai pedagang, dan ibu saya juga jualan elpiji. Ibu saya itu adalah salah satu pejual elpiji best seller di Batudaa. Dan setiap kali petugas elpiji melakukan pengisian di pangkalan ibu saya, warga-warga kompleks langsung buru-buru bergegas menuju pangkalan ibu saya sambil membawa elpiji mereka yang kosong; Ada yang bawa elpiji dua; ada yang bawa elpiji tiga; Bahkan ada yang saking buru-burunya, dia bawa elpijinya yang kosong sekalian sama kompornya, dan dia membawa elpijinya itu sambil berlari dengan kecepatan melebihi USAIN BOLT (Pelari tercepat didunia).
Saking cepatnya habis elpiji di batudaa, kadang ada warga-warga kompleks yang datang mau beli elpiji di pangkalan ibu saya, tapi datangnya sebelum petugas elpiji melakukan pengisian. Dan biasanya yang sering datang duluan itu ibu-ibu kompleks, yang kalo ngobrol sama temannya selalu temannya panggil bunda. Entah kenapa ibu-ibu kompleks di gorontalo kalo ngobrol sama temannya harus panggil-panggilan bunda?
Contoh: "Dari mana, bunda?" Rata-rata ibu-ibu kompleks di gorontalo kalo ngobrol sama temanya selalu temannya dipanggil bunda. kayak seolah-olah kalo ada ibu-ibu yang tidak memangil temannya dengan panggilan bunda, mereka merasa telah melakukan penistaan terhadap percakapan ibu-ibu kompleks. Mungkin ibu-ibu ada kamus tersendiri; KBBI (KAMUS BUNDA-BUNDA INDONESIA).
Nah, ibu-ibu kompleks ini biasanya yang datang duluan di pangkalan ibu saya sebelum petugas elpiji melakukan pengisian, supaya mereka kebagian. Sampai kadang-kadang ada yang tiba-tiba sok akrap dengan menggunakan modus-modus pujian pada ibu saya. Contohnya: "Apa kabar, bunda? Ti bunda so cantik eh.. jangan lupa kase sisa kasana tabung saya bunda waa, nanti saya mo kase fidget spinner ti bunda.' Ey Nanawa'u! Pongola limama'u fidget spinner (Buat apa fidget spinner dikasih ke ibu saya).
Lebih parahnya lagi waktu sore hari saya pernah lagi jalan di sekitar kompleks rumah, terus ada ibu-ibu yang bentuk alisnya lengkung-lengkung kayak sirkuit Moto GP, datang menghampiri saya dan bertanya...
'Elson, so maso gas pati mama?' Tanya si ibu.
'Saya juga tida tau ibu.' Jawab saya, dengan nada bicara sopan.
'Jangan panggil saya ibu, panggil saya bunda!' Jawab si ibu, dengan nada bicara sepeti bos-bos mafia.
'Iya, maaf bu, eh.. maksud saya bunda. Tapi saya juga butul tidak tau kalo elpiji so maso atau bulum.' Jawab saya, dengan nada bicara sopan.
'Masa olo ngana tida tau!?' Tanya si ibu lagi, dengan nada bicara memaksa
'Butul bunda, saya tida tau!' Jawab saya, dengan nada bicara sopan.
'Masa olo nga tida tau!? Tanya si ibu lagi, dengan nada bicara yang makin maksa.
Walaupun saya sudah berkali-kali bilang tidak tau, entah kenapa si ibu yang alisnya kayak sirkuit Moto GP ini tetap tidak percaya. Kayak seolah-seolah si ibu ini merasa kalo saya punya ikatan batin dengan petugas elpiji. Padahal saya sudah bilang tidak tau, tapi masih aja nanya, lama-lama saya kesal saya jawab...
'Bunda, saya so bilang saya tida tau, kalo ti bunda ba tanya turus saya hapus ti bunda pe alis!!' Kata saya.
'Jangan uti, lama ti bunda ada ba bikin ini alis uti..!' Jawab si ibu.
'Berapa lama so?' tanya saya.
'Ngana tau dari gorontalo ka manado kalo nae oto (Mobil) berapa jam?' tanya si ibu.
'12 jam, bunda!' Jawab saya.
'Kira-kira bagitu olo ti bunda pe alis!' Jawab si ibu.
Merespon jawaban dari si ibu saya hanya dapat bergumam, "Nanawa'u, ini ba gambar alis atau ba tunggu buka puasa!?"
'Terserah pati bunda jo, yang jelas jangan tanya pa saya saya juga tida tau!' Jawab saya.
'Baru mo tanya pa sapa!' Tanya si ibu.
'Tanya pa testony!!' Jawab saya, Sambil beranjak pergi.
Dari kejadian ini timbul ketakutan tersendiri. Saya takutnya karna elpiji sangat dibutuhkan di kampung saya, nanti lama-lama petugas elpiji kalo mau melakukan pengisian di pangkalan batudaa mereka jadi star syndrome. Pas turun dari trek petugas elpiji merasa bahwa mereka seolah-olah Justin Bieber yang disambut oleh para fans; Cuma bedanya Justin Bieber turun dari lamborgini pake kacamata, kalo petugas elpiji turun dari trek pake kaca spion; pas turun dari trek petugas elpiji bertindak seperti Justin Bieber, tapi justin biebern versi kampungan, Jadi petugas elpiji teriak ke warga-warga...
'Are you ready ibu-ibu kompleks?!' Teriak petugas elpiji.
'Panggil kami bunda, jangan panggil ibu!!!' Jawab ibu-ibu kompleks, dengan berteriak.
'Maaf bunda. Saya ulang ya? Are you ready bunda-bunda kompleks.' Teriak petugas elpiji.
'I'am ready!' Jawab ibu-ibu kompleks dengan kompak.
'Siap untuk memasak hari ini?!' Tanya petugas elpiji lagi.
'Siap!' Jawab ibu-ibu kompleks dengan kompak lagi.
'Masak apa hari ini?!' Tanya petugas elpiji lagi dan lagi.
'Yang enak dong!' Jawa ibu-ibu kompleks lagi dan lagi.
'Bunda-bunda yang didepan saya ini mau masak apa?!' Tanya petugas elpiji.
'Prekedel!; Jawab ibu-ibu yang didepan.
'Kalo bunda-bunda yang disebelah kiri saya mau masak apa?' Tanya petugas elpiji lagi.
'Prekedel!' Jawab ibu-ibu yang disebelah kiri.
'Kalo bunda-bunda yang disebelah kanan mau masak apa?!'
'Prekedel!' Jawab ibu-ibu disebelah kanan.
'Ini prekedel semua tidak ada yang lain!?' Tanya petugas elpiji, dengan nada emosi.
'Because prekedel it's my life!!!' Jawab warga kompleks, dengan kompak.
'Bodoh amat!! Nah, kalo bunda yang baru sampe ini masak apa?' Tanya petugas elpiji.
'Jangan tanya sama saya, tanya sama testony!!' Jawab si ibu yang baru sampe.
'Ya udah, kalo gitu kami pergi saja!' Kata petugas elpiji, dengan nada bicara ngambek.
'Pergi kemana, pak!' Tanya si ibu yang baru sampe.
'kami mau gabung Avegers!' Jawab petugas elpiji, sambil beranjak pergi.
Sumpah, tidak asik sekali. Jangan sampe petugas elpiji jadi star syndrome. Tapi dari sini kita sama-sama tau, ternyata testony itu sebenarnya, PREKEDEL!!!
Sampai disini pembahasan saya. Makase banyak untuk ngoni yang so ba baca kita pe blog. Pokoknya satu yang harus torang ingat...
"PREKEDEL NEVER DIE!!!"
'
'
!
Komentar
Posting Komentar