PERKEMBANGAN DIGITAL
BAGAIKAN SAMURAI
Era digital memang keren dan mempermudah kita melakukan sesuatu. Apa-apa sekarang serba online. Walaupun di kota saya (Gorontalo) agak ketinggalan. Disaat kota-kota lain sudah ada tranportasi online, di gorontalo yang online cuma “Ujian nasional” doang. Tapi Alhamdulilah sekarang di Gorontalo sudah ada transportasi online, dan itu sangat membantu. Mirisnya adalah kadang ada orang yang iseng. Kayak teman saya, dia pesan gojek, terus pas abang gojek udah dekat, di cancel. Kasihan, kan?
Itu ibaratnya kalian pdkt dengan cewe selama 3 bulan, terus pas kalian nembak, Ceweknya jawab, “Maaf, ya, Aku udah operasi kelamin.”
Salah satu bukti nyata bahwa Era Digital memberi perubahan yang luar biasa dalam hidup adalah, dulu orang kalo mau jualan cuma bisa di toko, di pasar, di pinggir jalan, bahkan ada yang jualan di tengah jalan ... jualan nyawa dia. Tapi sekarang di Era Digital kita bisa jualan apapun di sosial media. Sampai-sampai kalo buka facebook saya bingung: “Ini facebook atau pasar jajan?” Isinya orang jualan semua.
Bahkan ada teman saya, dia jualan sesuatu yang menurut saya gak perlu dijual di sosmed. Yaitu, “Shampo”. Ngapain, sih, jualan Shampo di facebook? Anggun C. Sasmi, aja, duta shampo pantene gak gini-gini amat! Ya, Dimana-dimana orang kalo mau beli shampo pasti di warung. Buat apa capek-capek buka internet cuma pengen beli shampo, doang. Tapi it’s okelah, mungkin teman saya hanya ingin memanfaatkan perkembangan digital.
Namun kalo kita bicara soal platform yang paling menarik di Era Digital, menurut saya youtube is the best. Semuanya ada di youtube. Pengen belajar masak? Ada tutorialnya di yotube. Pengen hiburan lucu? Ada kontennya di youtube. Pengen punya istri cantik, sexy, dan bahenol? Ngaca aja dulu! Youtube tidak menyediakan itu. sudah saya cari gak ada tutorialnya.
Dan jujur aja, saat ini yang paling ngeselin di youtube banyak konten yang clickbait. Buat yang belum tau clickbait itu apa? Click bait adalah sebuah istilah untuk menggambarkan konten web yang hanya bertujuan mendapatkan viewers atau pembaca, tanpa memperdulikan konten yang disajikan, dengan bergantung pada judul yang sensasional dan memprofokasi atau cuplikan gambar yang mendorong orang untuk membaca atau melihatnya.
Contohnya...
Ini true story saya pernah nonton video yang judul sama isinya beda jauh banget. Waktu saya mau nonton highlight pertandingan antara “Barcelona vs Sporting Lisbon” di youtube. Saya klik kontennya, dan luar biasa isinya bukan pertandingan Barcelona Vs Sporting Lisbon”, Melainkan video ikan-ikan di akurium. Saya kaget banget, “Ini Messi lagi cosplay jadi ikan mas koki apa gimana?”
Kesel gak, sih? Judulnya “Hihlight Barcelona Vs Sporting Lisbon”, tapi isi kontennya ikan-ikan lagi berenang di akuarium. Karna kesel dan iseng, saya ketik lagi di youtube, “Video ikan-ikan akurium”, pas kontennya muncul saya buka, ternyata isinya “Highlight Barcelona Vs Sporting Lisbon”. Lah, kok? Malah ketukar?
Walaupun begitu menurut saya youtube salah satu platform yang sangat membantu di era digital. Khususnya dari segi finansial. Banyak banget orang yang dulunya biasa aja, lalu begitu jadi youtubers mereka jadi kaya mendadak. Ambil contoh, “Jess No Limit”, seorang youtuber gamers mobile legend. Dia sekarang udah punya ferrari. Keren banget, kan? Tapi kadang saya suka iri kalo ngeliat ada yotuber yang baru mulai dan langsung terkenal. Karna Jess No Limit jadi youtubers baru setahun lebih. Dia buat channel youtube itu tahun 2017. Sedangkan saya, buat channel youtube dari tahun 2015, tapi saya belum punya ferrari. Saya cuma punya motor matic, yang setorannya belum lunas, dua bulan belum ganti oli, dua minggu belum isi bensin. Pokoknya miris.
Lebih parahnya lagi sampe sekarang channel yotube saya pertumbuhannya tidak signifikan. Bayangin aja, saya punya channel dari tahun 2015, tapi subscriber saya cuma “34 orang”. Itupun akun fake semua. Dan setiap kali saya upload video, dalam sehari yang nonton cuma 3 orang. Itupun yang nonton cuma teman saya, teman saya, dan satu orang yang salah pencet. “Wih, video apa, nih? Najis!” kata Dia begitu salah pencet.
Kalo dihitung baik-baik, saya bikin channel dari tahun 2015, dan sekarang sudah tahun 2018, sudah 3 tahun saya punya channel youtube, tapi subcriber Cuma 34 orang. Berarti dalam setahun subscriber saya hanya bertambah 11 orang. Sedih, bro. Saking sedih saya sempat mikir, “Apa saya harus bikin banyak akun gmail, terus saya subscribe channel sendiri?” Masa iya pengen jadi seniman harus kayak gitu? Kan gak enak kalo misalnya saya uploada video, terus ada notifikasi masuk di handphone: “Elson Ahmad meng-upload on youtube.” Ini Kesannya saya berbisnis dengan diri sendiri. Saya yang jual, saya juga yang beli. Lah?
For your infomation, bulan januari 2018 Youtube mengeluarkan peraturan baru. Peraturannya berbunyi seperti ini: “Untuk mendapatkan penghasilan dari iklan, sebuah video kini harus mengumpulkan setidaknya 4.000 ribu jam waktu tonton (watch time) dalam 12 bulan terakhir dan memiliki 1.000 subscriber.” Mau tau ekspresi saya pertama kali membaca peraturan ini? Lihat gambar dibawah ini.
Karna apa? Itu mustahil banget buat youtubers ampas kayak saya. Dalam setahun aja subscriber saya cuma nambah 11 orang. Gimana caranya saya bisa memenuhi persyaratan itu? Apa harus pake dukun? Mana ada dukun paham digital? Kecuali kalo mereka bisa santet online. Tapi, kan, gak mungkin? Namanya dukun kalo nyantet pake jampi-jampi, gak ada dukun nyantet pake pulsa data? Seandainya ada, yang kasihan kalo ada dukun mau nyantet, pas santetnya di kirim (via email), tiba-tiba ada pesan masuk: “Maaf paket internet anda habis. Silahkan isi kembali, jika tidak santet ini akan dikembalikan kepada anda!” Jadi dia sendiri yang kena santet. Kesannya dia yang jual, dia yang beli. Lah?
Maaf jadi ngebahas dukun kepanjangan, kayaknya saya lagi kena santet. Oke, lupakan soal dukun. Kita kembali ke topik.
Dengan persyaratan tadi, memang sangatlah sulit untuk saya menjadi youtubers terkenal. Tapi seperti kata kebanyakan orang, bahwa tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Selama punya niat, tekad, dan kerja keras, pasti bisa. Selebihnya percayakan saja kepada tuhan. Biar tuhan yang menilai, apakah kerja keras saya sudah cukup utuk meraih impian tersebut.
Harus diakui juga, bahwa masyarakat indonesia sangat menghargai perkembangan era digital. Kita bisa lihat dari banyak apresiasi berupa award terhadap konten kreator indonesia. Contoh di ulang tau Net Tv, selalu ada penghargaan “Digital personal of the year”. Dan tahun 2018 ini yang menang “Jess No Limit”. Apresiasi seperti itu menurut saya sangatlah bagus. Karna bisa menambah semangat para konten kreator indonesia. Khususnya saya, yang masih noob. Seandainya ada perhargaan youtubers termiris di indonesia? Pasti saya yang menang!
Namun tak bisa dipungkiri berkarya di dunia digital juga ada resikonya. Salah satunya adalah kita pasti akan punya haters. Haters itu unik banget pola pikirnya. Sekeren-kerennya konten kreator berkarya, pasti hatersnya akan mencari celah untuk menjatuhkan.
True story ...
saya pernah ngeliat ada seorang player mobile legend profesional. Dia upload foto berupa sertifikat penghargaan. Dalam sertifikat itu terulis: “Congratulation to the champion of 1 vs 1 Indonesian Assassin Cup”. Lalu dibawah postingan itu ada yang komen: “Emang sertifikat ini menjamin kau masuk surga?” Gila gak, tuh? Ini orang-orang kayak gini apa, sih? Tidak bisa menghargai prestasi orang. Dia gak mikir seberapa susahnya mendapatkan penghargaan dari passion yang ditekuni.
Emang setiap penghargaan harus disangkut pautkan dengan surga? Kalo seperti itu berarti orang juara satu di sekolah percuma juga, dong? Ada anak juara 1 di sekolah, terus dia upload prestasi ke sosmed, tiba-tiba ada yang komen: “Emang juara 1 di sekolah bisa buat kau masuk surga?” Apa, sih, orang-orang kayak gini? Tolonglah respect terhadap seseorang atas pencapainnya. Soal surga itu urusan dia dan tuhan.
Terlepas dari itu semua, menurut saya era digital memberikan perubaan positif. Walaupun ada juga yang negatif. Tapi itu semua tergantung bagaimana cara kita menggunakannya. Ibaratnya kayak samurai, salah satu pedang mematikan. Kalo kita menggunakan samurai untuk melawan kejahatan, pasti keburuntungan akan berpihak. Namun sebaliknya, kalo kita menggunakannya untuk kepentingan kriminal, maka hal buruk pula yang akan kita dapat.
Kesampingan hal negatif, semoga kedepannya makin banyak perubahan positif di Era Digital. Tetap semangat untuk teman-teman yang saat ini sedang berkarya dalam dunia digital, jangan pernah berhenti memberikan warna bagi indonesia. Saya hanya bisa berjanji pada diri sendiri, “Suatu hari nanti, dengan kerja keras, saya pasti akan berdiri bersama konten kreator hebat indonesia.” Kenapa? Karna Era digital adalah alasan nyata untuk kita terus berkarya.
Kesampingan hal negatif, semoga kedepannya makin banyak perubahan positif di Era Digital. Tetap semangat untuk teman-teman yang saat ini sedang berkarya dalam dunia digital, jangan pernah berhenti memberikan warna bagi indonesia. Saya hanya bisa berjanji pada diri sendiri, “Suatu hari nanti, dengan kerja keras, saya pasti akan berdiri bersama konten kreator hebat indonesia.” Kenapa? Karna Era digital adalah alasan nyata untuk kita terus berkarya.

Komentar
Posting Komentar