BUNGA
MAWAR DAN BUNGA TAI KUCING
Bagas terlihat sangat gugup, tangannya
gemetar sambil memegang telpon genggamnya. Sebelum menelpon dia pun mengucap
kata dalam hati, “Bismillah.” Kemudian dia memberanikan diri menelpon.
“Hallo, selamat malam,” sapa Bagas.
“Iya, malam,” balas Vio. “Ini siapa, ya?”
“Ini Aku ... Bagas, anak kelas 11 ipa 2.”
“Oh, iya, yang kere itu, kan?” kata Vio
dengan nada bicara yang ketus.
Bagas sontak terdiam sambil mengigit bibirnya saat mendapatkan respon negatif dari Vio. Vio adalah Kakak kelasnya di sekolah yang saat ini duduk dibangku kelas 12; Vio salah satu siswa tercantik di sekolahnya, bahkan banyak siswa pria berpendapat bahwa dia yang tercanik di sekolah; Rambutnya panjang, lurus, dan juga wangi, Seolah-olah tiap hari dia mandi pake kispray; Kulitnya putih bersih tanpa ada satupun bekas luka, kayak seumur hidup dia belum pernah digigit nyamuk; Bodynya bahenol, bentuk antara pinggang dan pantatnya berliku-liku, udah kayak sirkuit moto gp; Selain itu Vio adalah seorang wanita yang glamour dan terkenal matre.
Berbanding terbalik dengan Bagas; Pria
dengan muka pas-pasan; Badannya juga pas-pasan; Bahkan isi dompetnya juga
pas-pasan; Kulitnya juga dekil, yang kalo dia 10 detik kena matahari semua kulitnya
langsung berminyak. Teman-teman sekelasnya juga bingung, "ini orang atau pisang goreng?"
Percakapan telpon kembali berlanjut...
Dengan nada bicara
berbelit-belit Bagas menjawab, “I-iya,” Vio pun kembali merespon dengan
nada bicara ketus. “By the Way kamu dapet nomor Aku dari mana? Perasaan Aku gak
pernah ngasih?”
“Dapet di facebook,” kata Bagas dengan polosnya.
“Facebook? Kamu pikir Aku cewek alay?” kata Vio menggurutu. “yang suka share nomor telpon di facebook? Yang kalo lagi kesepian sering update status ‘Chat yuk sampe jadian’?”
“Gak gitu, sih,” jawab Bagas makin gugup.
“Terus, dapet darimana nomor aku?”
“Di kasih sama teman-”
“Di kasih sama teman-”
“Di kase teman?" Potong Vio. “tadi katanya
dapet di facebook? Sekarang dikasih teman? Yang benar darimana?”
“Yang
jelas aku dapetnya bukan dari snack berhadiah,” jawab Bagas sambil melucu.
“Apaan, sih? Jangan sok-sok ngelucu! Kodian
lagi!” balas Vio yang makin kesal.
“I-iya, maaf,” kata Bagas dengan nada
bicara lembut dan berbelit-belit.
“Oke, terus ada maksud apa nelpon aku jam
10 malam?”
Bagas yang semakin gugup tak berani lagi
menjawab, ia pun memilih untuk mematikan telponnya. “Lah? Kok malah dimatiin?
Dasar cowok freak!” kata Vio saat Bagas mematikan telponnya.
Sementara Bagas hanya
bisa terbaring lesu di kamar tidurnya setelah mendapatkan respon negatif dari
Vio. Ia kembali teringat kata Aldo, yang tidak lain adalah sahabat dekatnya. Sebelum
Bagas mau mendekati Vio, Aldo sudah menasehatinya: “Bro, kau gak mungkin bisa
jadian sama si Vio. Dia itu cantik, sexy, dan glamour. Dan kau itu hanya antonimnya! Ibarat
bunga, Vio itu kayak bunga mawar, sedangkan kau kayak bunga tai ayam! Mending
kau pacaran dengan bunga tai kucing!”
Tapi karna sifat Bagas
yang begitu optimis ia menghiraukan nasehat sahabatnya, dan dia nekat mendekati
Vio, yang pada akhirnya berujung patah hati. Saat itu pula Bagas menyadari satu
hal: “Sebelum mencintai seseorang pantaskan dulu diri kita. Kenapa? Karna jatuh
cinta itu sesuatu yang mahal. Untuk mendapatkannya, kau harus membayarnya
dengan jati diri.”
Komentar
Posting Komentar