MONSTER
DALAM PDKT
Di kantin kampus, Deri tersenyum-senyum sendiri sambil
melihat Nana yang sedang memakan nasi goreng. Pada saat itu hanya ada mereka
berdua di kantin. Mahasiswa lain sedang makan di kantin sebelah
“Kamu kenapa, Der?” tanya Nana, “kok,
ngeliatin aku terus?” Deri langsung memalingkan wajahnya dan langsung fokus
memakan nasi gorengnya. Nana lumayan kebingungan melihat tingkah
laku Deri yang sedang mencuri-curi pandang padanya.
“Na,” tegur Deri.
“Iya?”
“Boleh tidak aku mencintaimu?” tanya Deri
dengan konyolnya. Nana menatap Deri sambil tersenyum kecil. Beberapa detik
kemudian nana menjawab, “Silahkan, setiap orang memiliki hak untuk mencintai,”
Deri pun tersenyum lebar
mendengar jawaban itu. Seolah-olah Nana memberi dia peluang untuk menjadi
kekasihnya. “Aku mau jadi pasangan hidupmu?” kata Deri menatap Nana dengan
dalam.
Sementara Nana sangat kaget mendengar Deri
berkata seperti itu. “Tapi belum sekarang,” sambung Deri, “Nanti kalo aku udah
mapan, aku mau melamarmu!” Nana makin kaget dan gugup, bahkan dia sempat
tersendak. “Makasih ya, Der, atas niat
baiknya,” jawab Nana. “Tapi aku belum berpikir ke hal itu.”
“Iya, aku paham, makanya aku bilang nanti
kalo udah mapan,” balas Deri. Nana yang kebingungan hanya bisa menjawab, “Iya.”
Deri memang sudah sejak lama
menyukai Nana. Wanita cantik; berambut panjang yang terurai indah; Matanya
sedikit sipit, seperti artis korea; badannya tidak terlau tinggi, tapi juga tidak
pendek. Bagi Deri, Nana wanita tercantik, setelah Jennie Blackpink.
Sementara Deri sendiri lumayan tampan; hidungnya tinggi, Tapi tidak lebih
tinggi dari menara eiffel; Badannya juga proposional, cocok jadi bot di PUBG.
Walaupun begitu Deri belum berani mengajak Nana pacaran, karna dia tidak punya
apa-apa untuk ditawarkan. Deri hanya anak kos, tentu uang sakunya terbatas.
Sementara Nana sendiri bukan wanita matre. Nana wanita yang sederhana,
murah senyum, dan selalu baik pada semua orang. Namun belajar dari kesalahan, Deri
sendiri pernah ditolak cewek karna gak punya motor. Saat itulah dia percaya
bahwa wanita butuh pria yang tulus dan mapan (berduit).
Selepas dari kejadian di kantin
tadi, Deri kembali ke kos dengan perasangan yang sangat bahagia.
“Boleh tidak aku mencintaimu?”
“Silahkan, setiap orang punya hak untuk
mencintai.” Percakapan-percakapan konyol itu terbayang terus di kepala Deri. “Ingin
rasanya cepat wisuda, dan mencari pekerjaan yang layak, supaya aku bisa
melamarnya dengan gagah,” kata Deri dalam hati, sambil tersenyum-senyum sendiri
membayangkan Nana.
Minggu demi minggu berlalu, seperti
biasa Deri pergi ke kampus, mencari Nana, kemudian mengajaknya ngobrol.
Seolah-olah bagi Deri kampus bukan lagi tempatnya belajar, melainkan tempat untuk
bertemu dengan wanita masa depannya. Begitu terus rutinitas Deri di kampus.
Hingga pada suatu malam, di kosannya, Deri sedang membuka Instagram,
kemudian melihat postingan dari Nana. Postingan itu berisikan fotogenik seorang
laki-laki tampan, dengan caption: “My heart stopping on you”. Deri yang tak
pandai bahasa inggris langsung membuka google translate, dan mencari tau arti
dari caption itu. Perlahan-lahan hati Deri mulai remuk setelah mengetahui arti dari
caption itu: “My heart stoping on you, artinya, ‘hatiku berhenti padamu’.”
Deri langsung kembali membuka instagram dan melihat lagi postingan tadi.
Dipostingan itu ada 19 komentar. Komentar itu datang dari teman-teman dekat Nana: “Langgeng
Beb; Cie akhirnya jadian; So sweet; Couple goals.” Itulah beberapa isi dari
komentar postingan tersebut, yang kemudian dibalas oleh Nana dengan ucapan, “Makasih.”
Melihat komentar itu mata Deri berkaca-kaca, perasaannya hancur, bagaikan
player pubg solo yang ingin mengambil air drop dan di serang oleh 4 skuad.
Keesokkan harinya, di kampus, Deri melihat nana sedang berjalan
sendirian menuju ke arah kantin. Deri pun langsung mendekat. “Pagi, Na,” sapa
Deri.
“Pagi. Eh, Deri,” balas Nana. “mau ke
kantin juga, ya?”
“Enggak, sih, aku cuma mau tanya sesuatu,
boleh?”
“Tanya apa?”
“Kamu udah punya pacar, ya?” tanya Deri
menatap Nana dengan dalam. Sementara Nana hanya terdiam menundukan kepalanya.
Suasana berubah menjadi canggung. Mereka berdua menghiraukan mahasiswa lain
yang kesana kemari berjalan. Nana menutup matanya sejenak. Perlahan-berlahan Nana
menjawab, “I-iya.”
Mata Deri sedikit berkaca-kaca mendengar
kata “iya” keluar dari mulut Nana. Namun dia berusaha untuk bersikap dewasa. “Kamu
mau kantin, kan? tanya Deri, “silahkan, selamat sarapan. Aku ke sebelah dulu.”
“Der,” tegur Nana saat Deri melangkah pergi,
“maaf.” Deri membalikan badan, kemudian menjawab,
“Seperti katamu, ‘setiap orang punya hak mencintai.’
Aku mencintaimu. Tapi kamu mencintai pria itu. pria itu juga mencintaimu,
bukan? Kalian berdua layak bahagia!”
Deri tersenyum, lalu melangkah
pergi menerima kenyataan bahwa cinta yang dia beri tak sesuai dengan harapan
yang telah dia bangun. Saat itu pula Deri sadar bahwa Nana hanya menghargai
perasaannya. Tak salah jika berharap, tapi berharap lebih, itu sama seperti
kamu sedang menciptakan monster, yang siap menghancurkan hatimu, bila semua tak
terwujud.
Komentar
Posting Komentar